Logo SIGAP BRIDA

SIGAP

Sistem Informasi Gabungan Arsip & Pegawai

KAJIAN PENATAAN POTENSI KULINER KOTA MAKASSAR 2025

Dody Agriyanto, S.Sos, M.Si, Dr. Ali Anas, S.Sos., M.Si, Muh. Asratillah Senge, S.T., M.T, Muh. Asratillah Senge, S.T., M.T, Rury Ramadhan, M.Si • 2025

Public Lisensi: Hak Cipta BRIDA 👁️ 0 ⬇️ 0

Abstrak

Kota Makassar, sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia timur dengan luas wilayah sekitar 175,77 km² dan posisi strategis di pesisir barat daya Pulau Sulawesi, menghadap Selat Makassar. Berdasarkan data terbaru, populasi Kota Makassar mencapai lebih dari 1.482.354 jiwa (berdasarkan data BPS tahun 2024, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 0,65 %), didominasi oleh suku Makassar dan Bugis, dengan komposisi penduduk yang beragam secara etnis dan budaya. Ekonomi kota ini tumbuh pesat, dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2025 sebesar 4,53% year-on-year, didorong oleh sektor perdagangan, pariwisata, dan kelautan. Potensi pariwisata Makassar sangat besar, termasuk destinasi seperti Pantai Losari, Fort Rotterdam, dan kuliner khas seperti coto Makassar serta pisang epe. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Makassar pada Februari 2025 mencapai 50,21%, menunjukkan pemulihan sektor pariwisata pasca-pandemi. Potensi kuliner jalanan Kota Makassar, atau dikenal sebagai Potensi kuliner jalanan Kota Makassar, terletak di Jalan Tinumbu, Kelurahan Layang, Kecamatan Bontoala, sekitar 4 km utara dari Pantai Losari. Kawasan ini berdekatan dengan pasar tradisional Cidu yang sudah berdiri sejak 1950-an yang menjual ikan dan sayuran di lahan berbentuk segitiga ("cidu" berarti runcing dalam bahasa Makassar). Kawasan tersebut telah bertransformasi menjadi pusat kuliner malam sejak pasca-pandemi. Saat ini, Potensi kuliner jalanan Kota Makassar menjadi "surganya pecinta kuliner" dengan ratusan pedagang kaki lima yang menawarkan beragam makanan murah, mulai dari jajanan modern seperti kebab turki, kentang goreng, dan dimsum hingga tradisional seperti gogos (lemper bakar), pisang ijo, dan barongko. Ada sekitar 169 pedagang yang beraktivitas di Potensi kuliner jalanan Kota Makassar, dengan harga terjangkau (Rp5.000–Rp15.000 per item) membuatnya populer, dengan jam operasional mulai pukul 17.00–19.00 WITA hingga tengah malam, paling ramai pada akhir pekan. Kawasan ini menarik wisatawan lokal dan mancanegara, mengubah area yang dulunya sepi dan rawan kejahatan menjadi pusat aktivitas malam. Lebih lanjut, Penataan kawasan kuliner jalanan di sekitar GOR Sudiang, Makassar, mencerminkan dinamika khas antara kebutuhan ekonomi masyarakat kecil dan tantangan regulasi kota. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD), sebagian besar pedagang kaki lima (PKL) di kawasan ini telah mengalami ketidakpastian berulang terkait lokasi berjualan, termasuk penggusuran hingga tiga kali tanpa kejelasan hukum. Meski lokasi strategis di sekitar GOR memberikan potensi ekonomi yang menjanjikan, para pedagang menghadapi berbagai hambatan seperti keterbatasan ruang, biaya operasional yang tidak seragam, dan absennya sistem tata kelola resmi. Saat ini, biaya operasional per hari bisa mencapai Rp30.000, yang terdiri dari kontribusi untuk listrik, sampah, keamanan, dan retribusi pasar, namun belum memiliki pengelolaan resmi yang diakui. Dukungan infrastruktur yang masih minim turut memperburuk kondisi, terutama dalam penyediaan listrik dan pengelolaan sampah yang belum efisien. Sebagian besar pedagang belum pernah menerima pelatihan dari pemerintah, padahal mereka sangat mengharapka

Kata Kunci

Metode

Unduh PDF Buka PDF Penuh
Dody Agriyanto, S.Sos, M.Si, Dr. Ali Anas, S.Sos., M.Si, Muh. Asratillah Senge, S.T., M.T, Muh. Asratillah Senge, S.T., M.T, Rury Ramadhan, M.Si (2025). KAJIAN PENATAAN POTENSI KULINER KOTA MAKASSAR 2025. BRIDA Kota Makassar

Pendanaan & Etika

Sumber Pendanaan
Pernyataan Etika