SB

SIGAP BRIDA

Sistem Informasi Gabungan Arsip & Privasi

REVITALISASI SISTEM DRAINASE KOTA MAKASSAR

DR. ENG. MUKHSAN PUTRA HATTA, ST., MT, DR. IR. RISWAL K, ST., MT • 2021

Public Lisensi: Hak Cipta BRIDA 👁️ 0 ⬇️ 0

Abstrak

Sejak awal peradaban manusia, air merupakan kebutuhan utama untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan manusia dan syarat penting dalam rangka meningkatkan taraf hidup manusia. Manusia sangat membutuhkan air, baik dikomsumsi untuk air minum mapun untuk aktifias dan keperluan yang lainya. Namun selain, dapat memberikan manfaat yang besar, air juga dapat menimbulkan bencana – bencana dan kerugian - kerugian harta dan jiwa apabila manusia tidak lagi memperhatikan keseimbangan alam dalam bertindak dan berbuat. (Herlambang W.S., 2015) Pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk yang cepat menimbulkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan untuk kebutuhan perumahan, kawasan industri/jasa dan fasilitas pendukungnya, yang kemudian mengubah lahan terbuka dan/atau lahan basa menjadi lahan terbangun. Perkembangan kawasan terbangun yang sangat pesat sering tidak terkendali dan tidak sesuai lagi dengan tata ruang maupun konsep pembangunan yang berkelanjutan, mengakibatkan banyak kawasan-kawasan rendah yang semula berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara (retarding pond) dan bantaran sungai menjadi tempat hunian penduduk. (Dwijaya A, 2014). Kota Makassar diapit dua buah sungai yaitu Sungai Tallo yang bermuara disebelah utara kota dan Sungai Jeneberang yang bermuara di bagian selatan kota. Salah satu masalah kota besar termasuk Kota Makasar yaitu jumlah penduduk terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini yang membawa dampak2 kepada peningkatan kebutuhan lahan dan permintaan akan pemenuhan kebutuhan pelayanan dan prasarana kota yang dapat berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan seperti degradasi lingkungan dan bencana alam. Salah satu2 permasalahan yang sering terjadi setiap tahunnya adalah masalah banjir. Hampir setiap tahun bencana banjir di Makassar terjadi pada setiap datangnya musim penghujan (Mahardy A.I., 2014). Banjir terparah dalam satu dekade terakhir di Kota Makassar terjadi pada tahun 2019 yang merendam 4 kecamatan yaitu Kecamatan Panakukang, Kecamatan Manggala, dan Kecamatan Biringkanaya setinggi 50 cm hingga 200 cm. Penyebab utama dari banjir tersebut akibat intensitas curah hujan relatif tinggi pada tanggal 21 dan 22 Januari 2020 sehingga Sungai Tallo dan Jeneberang tidak mampu menampung debit banjir. Bencana banjir yang telah melanda Kota Makassar ini telah menghambat aktifitas ekonomi dan sosial masyarakat dan tidak jarang membuat infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan perumahan menjadi rusak (BNPB, 2020). Banjir di Kota Makassar selain dipengaruhi oleh intensitas curah hujan yang relatif tinggi, kondisi topografi yang berbentuk cekungan, debit aliran air meningkat, perubahan pola guna lahan dan pasang surut air laut, juga dipengaruhi oleh kurang memadainya sistem drainase yang ada, meskipun pemerintah kota telah memprogramkan serta membangun infrastruktur namun persoalan banjir masih saja menjadi masalah serius (Zubair A., dkk, 2020) Mengingat salah satu penyebab permasalahan banjir di Kota Makassar adalah karena tata kelola sistem drainase yang belum maksimal. Oleh karena itu diperlukan penataan sistem drainase yang tepat untuk membebaskan Kota Makassar dari masalah banjir.3 Berdasarkan hal tersebut diatas maka dibutuhkan lagi lebih jauh sebuah penelitian yang berjudul: “Revitalisasi Sistem Drainase Kota Makassar

Kata Kunci

Metode

Unduh PDF Buka PDF Penuh
DR. ENG. MUKHSAN PUTRA HATTA, ST., MT, DR. IR. RISWAL K, ST., MT (2021). REVITALISASI SISTEM DRAINASE KOTA MAKASSAR. BRIDA Kota Makassar

Pendanaan & Etika

Sumber Pendanaan
Pernyataan Etika